Tuesday, May 08, 2007

"Asep" dan Hari Pendidikan Nasional


Memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun ini terasa telat, padahal saya sangat interest dengan hari besar yang satu ini. Meski profesi bapak-ibu ku adalah guru, yang di-gugu dan di-tiru, tapi sebenarnya bukan faktor alasan itu. Istimewa sekali bahwa bangsa ini benar-benar menempatkan pendidikan sebagai momentum yang harus diperingati layaknya hari proklamasi, hari kartini, hari kebangkitan nasional dll. Meskipun telat terhitung 6 hari yang lalu, menggelitik imajinasi nakal saya 'berontak' meski basi (baca: gak bermutu).
Alkisah, sebenarnya saya terilhamkan oleh kejadian 2 hari yang lalu. Akhir minggu kemaren saya ke Bandung (lagi) untuk kesekian kalinya. Meski kali ini bukan dedicated untuk sekedar jalan2 karena 2 hari sebelumnya ada acara workshop Oracle dari kantor, tapi justru karena udah terlanjur berada di Bandung bikin ogah pulang ke Jakarta hahahha.
Berhubung juga di sana ada duet maut (Yono & Runnie) yang selalu jadi langganan setia untuk direpoti oleh angkatan kami klo lagi main ke Bandung. Feel like hometown!! so pasti, karena menilik hawa dingin, wisata alam, shopping dan kuliner nya serasa di Malang (walaupun dari semua sisi tsb, almost semuanya Malang masih kalah lah :p ).

Siang yang terik, terlambat bangun karena malemnya baru balik ke kosan Yono di 'istana' setraduta jam 2 lebih. Seperti sdh direncanakan, siang itu akhirnya kami gak jadi jalan-jalan ke-'atas' (Lembang-Ciater) dan otomatis gagal juga ngetest kapasitas Tigi baru nya Yono yang didatangkan langsung dari Jakarta sehari sebelumnya. Setelah agak mendekati tengah hari, Tigi akhirnya jadi di-test juga muter-muter di dalam kota saja. Semangkuk bubur ayam di depan BIP (yang kata Yono) adalah bubur ayam paling hebat di Bandung, jadi menu sarapan pagi menjelang siang kali ini. Lanjut Tigi dibawa meluncur ke Bandung Sport Center(BSC) daerah deket stadion Siliwangi untuk cari oleh-oleh sepatu bola baru untuk rencana Olympiasel akhir bulan ini. Tapi kecewa juga karena ternyata hanya 1 stand olahraga di BSC, itupun juga gak lengkap :(. Lepas tanpa tujuan yang jelas, Tigi cuman digeber pelan2 menyusuri jalanan deket2 situ sambil kami terlibat obrolan gak jelas tentang alasan nakal maraknya musim kawin di daerah2 situ dan alasan kenapa angkot di Bandung warnanya gak seragam kayak di Malang (gak penting banged..obrolan ini di-ignore saja ya pemirsa :p ).

Siang yang terik, di depan masjid deket stadion Siliwangi, perhatian kami tersita serombongan anak lagi ngaso di bawah pohon. Bukan serombongan anak biasa, dari barang yang mereka bawa, sepertinya lebih bisa kami simpulkan adalah penjual cobek dan ulekan (bahasa indonesia nya apa ya? :D ) yang biasa untuk meracik sambal. Sepertinya mereka juga bukan warga lokal Bandung, at least tidak berasal dari kota Bandung lah.
Sayang sekali, karena ternyata tak lama kemudian di ujung jalan itu, terlihat salah satu anggota rombongan yang tercecer. Lamat-lamat semakin mendekat (yang bikin kami kaget) sepertinya yang seorang itu adalah anak kecil yang klo boleh saya katakan baru lepas dari usia balita. Kagett!!
Dengan memikul sepasang cobek dari batu yang mungkin beratnya setara (bisa jadi lebih) berat badannya, dan tinggi dari bawaannya yang hampir setara dengan tinggi badannya. Terseok-seok karena bagi kami yang hanya melihat, cobek batu itu lumayan berat apalagi dibakar terik matahari siang itu. Miris!!
Sebutlah namanya "Asep". Ada pergolakan batin melihat pelan-pelan si Asep mulai berteduh di bawah pohon seraya melepas topi lusuh dan sandalnya ukurannya kebesaran itu. Gak tega!!! apalagi membayangkan usianya yang sebaya dengan adikku yang paling kecil. Pura-pura bertanya harga cobek, beruntung kami bisa sedikit ngobrol dengan si Asep kecil ini. Masih dengan sikap malu-malu dan logat sunda nya

Adik dari mana?
Padalarang Kak
Jalan kaki ke sini?
Iya Kak
Masih
sekolah??
Deg-degan juga karena tiba-tiba Asep menunduk seperti menyiapkan sebuah jawaban, dan akhirnya cuma menjawab pelan "Iya kak..kelas 1 SD". Fyuhh..sedikit lega!! ternyata ketakukan kami Asep adalah anak putus sekolah, terbantahkan!!

Sekelumit kisah yang aneh tapi 'dipaksa' lumrah untuk ukuran kita. Memang masih tentang kritik sosial, anak seperti Asep ini bisa jadi jutaan jumlahnya di negeri ini. Tidak berlebihan rasanya Iwan Fals mengangkat tokoh si Budi Kecil di tugu Pancoran, anak tanggung yang punya rutinitas sekolah di pagi hari dan jualan koran sore sepulang sekolah.

Well, ini bukan implikasi logis jika dihubungkan dengan posisi 'pendidikan' sebagai kebutuhan primer (pokok) yang absurd dan terkesan digantungkan. Mengacu pada teori kebutuhan dasar yg modern dimana selain sandang, pangan, papan..manusia juga perlu pendidikan dan kesehatan. Tapi klo ternyata masing-masing kebutuhan sudah bersinggungan seperti ini? tidak bisa dijamin pendidikan bisa dipenuhi bersama-sama dengan urusan perut.

Hari Pendidikan Nasional memang telah lewat, memang hanya ritual seremonial semata..menguap. "Asep-asep" yang lain mungkin juga gak inget ada apa di hari itu. Solusi yang bisa kami (mungkin anda) kasih juga mungkin solusi sementara, sebentar juga sudah hilang jadi masih jauh klo bicara tentang mainframe pendidikan nasional.
Alhamdulillah, bangsa kita tercinta ini punya culture bagus tentang pendidikan. Pekerjaan besar bagi kita semua untuk kembali berfikir tentang sebuah solusi. Mungkin memberanikan diri untuk menempatkan 'pendidikan' sebagai kebutuhan pokok yang setara untuk dipenuhi bagi tunas bangsa...meski dengan resiko dan usaha yang besar.
Terakhir, hanya sebuah opini, bukan menggurui..

1 comments:

w3w3 said...

Selamat HARDIKNAS... btw mbek mbok yo blogroll'e di isi to...
www.syslog.web.id