Friday, July 20, 2007

Gendjer-gendjer

Langsung teringat 'forbidden' song jaman pemberontakan PKI tahun 1965? betul sekali. Belakangan, di tengah agak intens nya saya buka-buka file lama terkait peristiwa yang katanya paling kelam yang pernah dicatatkan bangsa ini, terselip nama lagu ini yang konon adalah lagu sensistif untuk dinyayikan. Memang bener? mungkin juga. Tapi sepertinya bukan pada lirik lagunya, sangat beda sekali dengan comunist anthem "L'internationale" yang memang isinya persuasif dan penuh propaganda. Sejarah juga tidak mencatat bahwa lagu ini disahkan sebagai mars/hymne Partai Komunis Indonesia (tokoh utama pergolakan bangsa pertengahan tahun 1960-an). Lantas lagu ini salah apa?? *sudah dicari di google dengan keyword "salahnya lagu Gendjer-gendjer" tetep ndak nemu juga* hahaha

Belakangan ternyata lagu ini sempat booming pada saat revolusi gagal itu meletus. Mungkin sama seperti lagu 'SMS' nya Trio Macan yang booming beberapa bulan silam. Trus apesnya (ga bisa dibilang apes juga sih), lagu ini konon katanya dinyanyikan Gerwani saat malam 1 Oktober 1965 tepatnya pada saat tragedi melukis di wajah petinggi TNI AD dengan menggunakan silet. Mungkin masih berupa jargon, tapi sudah menjadi mindset umum bahwa untuk selanjutnya lagu ini tidak boleh dinyanyikan lagi di jaman itu, meski juga belum ada yang bisa memastikan seandainya dulu yang dinyanyikan adalah lagunya The Beatles bakalan dilarang juga. *huehuehue*

Tapi inilah bukti bahwa lagu ini tidak asing dan sangat dekat dengan rakyat. Menilik dari artinya, 'Gendjer' dalam bahasa Jawa artinya kurang lebih adalah semacam selada air yang biasanya hidup di rawa-rawa dan sangat jarang diolah menjadi sayur kecuali kalo memang sudah terpaksa. Ini retorika politik, ditengah program Bung Karno melancarkan politik Mercusuar, keadaan rakyat jaman itu memang seperti kepingan sisi mata uang yang lain. Jauh dari kata sejahtera. Dan tidaklah bersalah juga kalo ternyata daun gendjer menyambung hidup mengenyangkan perut mereka..
Berbanggalah pencipta lagu ini, meski dengan lirik yang sama sekali tidak bermakna..tapi sudah cukup dijadikan alasan untuk memberangus nyawa seseorang..
Genjer-genjer

Genjer-genjer(Genjer-genjer)
Di pematang, berserakan (nong kedok-an pating keleler)
Ibunya anak-anak, datang-datang (Emak-e tole,teko-teko)
Mencabuti genjer (mBubuti genjer)

Dapat sebakul (oleh sak tenong)
Lalu ngeloyor pergi (mungkor sedot)
Dapat yang kecil-kecil (seng tole-tole)
Genjer-genjer (genjer-genjer)
Sekarang sudah dibawa pulang (saiki wis digowo muleh)

Genjer-genjer (Genjer-genjer)
Pagi-pagi dijual di pasar (isuk-isuk didol ning pasar)
Dibariskan, diikat dan semua digelar (dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar)

Ibunya Jebreng (emak-e Jebreng)
pada beli membawa belasan ikat (podo tuku nggowo welasan)
Genjer-genjer sekarang siap diolah (genjer-genjer saiki wis arep diolah)
Tidak ada yang salah dengan lagu ini khann???
*still wondering

5 comments:

Perempuan said...

klo ga salah nhe, salahnya lagu itu adalah dy dinyanyikan pada waktu,tempat,dan orang2 yang salah. jadi masyarakat indonesia yang wktu itu msh memiliki idealis nasionalis lgsung memvonis lagu itu salah.
*lho , ngomong apa ya aq barusan???

mbix said...

itu lah det, kalo misalkan dulu diganti sama lagunya the beatles, apa bakalan dilarang juga?
koyok ngunu iku terlalu pintarnya bangsa ini memainkan jargon seni sebagai retorika politik
* sesuatu yang sering menarik perhatianku :)) hahahaha

w3w3 said...

Untung lagune "Tani Maju" gak digawe, untung;e maneh yoo rung enek "Tani Maju" jaman semono... :))

an|na said...

lyricnya ga ada yg salah siyh dan..
sing salahsing menilai, i think ;)

cindymon said...

jadi inget pelem Gie..