(Sebenarnya posting ini* memang dibuat bertepatan dengan pemilihan kepala daerah jakarta 8 agustus 2007, tapi berhubung dengan ownernya akhir2 ini sok sibuk, jadilah postingan ini terbengkalai dan baru diposting hari ini)
Hari ini, 8 Agustus 2007, pesta demokrasi digelar di ibukota ini. Yup, semenjak UU pemilihan kepala daerah langsung (pilkadal) disahkan pada medio 2003 lalu, untuk kali pertama ini lah DKI Jakarta merasakan mekanisme pemilihan yang kalo menurut saya termasuk sistem yang beribet *barangkali berasumsi untuk sebuah sistem baru adalah wajar* . Berkaca dari pilkadal-pilkadal di daerah lain yang tidaklah se-smooth seperti angan-angan selama ini, semoga kejadian 'ketidakdewasaan' berpolitik ini tidak terjadi di pikadal hari ini.
Sedikit catatan di sini, statistik menyebutkan bahwa hampir 34 % diprediksi penduduk Jakarta akan golput. Angka ini bukan sekedar statistik semata karena memang sebenarnya demikian. Dalam artian scoop luasnya adalah tidak melulu karena pemilih enggan ke TPS untuk menyalurkan hak pilihnya. Tapi mekanismenya sendiri lah yang begitu, 'memaksa' margin pemilih yang yang berhak menyalurkan hak pilihnya makin absurd karena kekacauan data. Lepas dari kecurigaan 'pemberangusan' suara yang kemarin sempat disuarakan tim sukses salah satu kandidat gubernur, adalah saya juga korban pembungkaman suara secara sepihak. Lha wong saya sudah lebih dari 2 tahun tercatat sebagai penduduk DKI Jakarta, KTP pun sudah bergambar tugu monas dan dengan bangga saya sudah bisa mengaku sebagai wong kota bukan lagi wong ndeso selama belasan tahun. *wong kota tapi rejeki ndeso* . Namun meski begitu, cek dan ricek ke RT tempat dulu saya nyogok beli KTP, ternyata nama saya tidak tercantum dalam daftar pemilih tepat Pilkadal Jakarta 2007. *apes* . Tapi ya sudahlah, harusnya saya juga nyadar bahwa privilege penduduk 'sogokan' seperti saya ini tak lebih adalah sekedar perasaan aman kalau-kalau suatu saat ada operasi KTP.
Akhir kata, apapun itu menaruh harapan kepada Gubernur terpilih nanti, entah Adang-Dani atau Fauzi Bowo-Prijanto *update : hasil akhir perhitungan KPUD DKI dimenangi pasangan Fauzi Bowo-Prijanto* adalah wajar. Membawa kota yang demikian kompleks dan kronis masalah sosialnya seperti Jakarta ini tidaklah mudah. Semoga.
Meski ada sedikit pendapat yang ternyata cukup logis dari rekan satu kos-kosan tentang Pilkadal Jakarta dan fenomena golput, menurutnya apakah dengan mencoblos nanti akan merubah nasibnya yang selama ini mengabdi sebagai IT outsourcing di PT In****t (bekas BUMN yang kini dikuasai SingTel) *hahahaha* jadi ini sikap skeptis apa apatis?
*salah satu topik yang sempat saya selesaikan karena melihat banyak relevansinya disamping beberapa topik menarik yg terbengkalai bulan ini ex: Konferensi Khilafah Islamiah, HUT RI dll*
3 comments:
Wah!! Di Jakarta mau ada Pilkada?! Berita terbaru nih dhan!!
*injek-injek*
aku ta,,
punya ktp jkt baru setelah merit.. qiqiiqi :D
walah jeng, mosok saya harus merit dulu baru diakui sebagai penduduk resmi Jakarta..hahahha..Kawin..kawin
Post a Comment