Ramadhan tahun ini sudah hampir mencapai klimaksnya. Orgasme nya tinggal menunggu hitungan hari. Mari bicara tentang khazanah budaya, bulan Ramadhan adalah pasti, ritual puasa di setiap harinya juga pasti, semarak islami pun pasti dan lebaran pun sudah menanti.
*Sebenarnya nulis gini karena pengen niru gaya-gaya tulisan kontemporer nya Emha Ainun Nadjib, tapi boro-boro mirip, ada juga tambah acak-acakan*
Well, Ramadhan emang sebentar lagi akan berakhir. Betapa kemuliaan bulan yang dirindukan semua yang ada di langit dan bumi akan menjadi sesuatu yang patut direnungkan. Kalo inget jaman kecil masih ngaji di desa sana nun jauh di kaki Gunung Semeru, biasanya momen kek gini ini ramai-ramainya gaung Ramadhan. Suer..ekonomi di pedesaan yang sudah lesu itu tambah lesu, jalanan makadam berdebu itu makin sepi dilalui orang. Entah karena sepertinya semua sibuk dengan pencarian 'sesuatu' di akhir Ramadhan ato memang sudah syndrome menunggu suatu hari lebaran dimana setiap orang bebas dari tanggungan nguli ke kebun-kebun apel, mencari rumput untuk ternak dan pekerjaan rutin lain layaknya penduduk desa. Semacam jengah dengan rutinitas barangkali.
Menggali kata pencarian ' sesuatu' di akhir Ramadhan lah yang sebenarnya memotivasi saya menulis tulisan yang akhirnya setengah kontemporer, seperempat curhat, seperdelapan jeritan hati dan sisanya ga lebih untuk tumpahan keprihatinan. Prihatin??. Ya, kepada diri saya sendiri. Agak kesulitan utnuk mendeskripsikan apa yang saya alami sekarang. Merindukan 'sense' layaknya seorang zuhud di tengah himpitan modernisasi sudah pasti mustahil. Ato mencoba menangkap energi sufistik dengan keadaan seperti ini..tidak bagi saya. Ya, saya lebih pilih sikap pengecut untuk menyalahkan keadaan manakala sepertinya ini saya anggap sebuah konsekuensi dari sebuah pola hidup yang lagi-lagi harus saya hubungkan dengan profesi saya.
Akhir-akhir ini, saya harus berjibaku dengan sedikit melonjaknya load kerjaan seiring dengan lonjakan sembako menjelang lebaran. *ga nyambung*. Saya bilang ini juga bukan semacam eksploitasi, tapi memang lebih ke arah koridor tanggung jawab saya.
Cutover billing system dari Geneva ke IRB dua pekan silam, memang ga mungkin langsung compatible dan mulus dioperasikan. Belum lagi database service Ring Back Tone (RBT) harus dimigrate ke site yang baru, padahal notabene nya database itu trafficnya adalah n transaction per second (tps). Dan yang pasti, di IT system perusahaan ini apabila ada perubahan di satu lini system pasti berpengaruh terhadap lini yang lain. Saya jadi tertarik menganalogikannya seperti sebuah tim sepakbola ala guyonan mas Joe, bahwa dulu pas David Beckham pilih hengkang ke Real Madrid, alhasil terjadi ketimpangan system sayap di MU dimana Van Nistelrooy yang terbiasa dimanjakan umpan crossing Beckham, stress. Kehadiran anak muda dari Portugal, C. Ronaldo, ternyata memang harus di sesuai oleh Van Nistelrooy yang ternyata tidak mampu mengimbangi speed dan akselerasi khas Ronaldo. Jadilah Van Nistelrooy pindah ke Real Madrid karena udah terlanjur settled ama Beckham. Dan MU pun lebih memilih mengandalkan ujung tombak bertipikal speed dan power, dan itu ada di dalam diri Teves/Saha.
Analogi yang masuk akal, perubahan satu system yang sudah running well di perusahaan ini, pasti akan berpengaruh terhadap system lain. Dan ini yang sekarang sedang saya hadapi. Simple case, katakanlah ada sebuah query database yang udah tahunan dideploy, dan ribuan kali di execute, tiba-tiba ngambek. What the hell!!
Semuanya butuh fully support on site, yap di kantor dan tepatnya di depan komputer.Kalo mau jujur tanpa tedheng aling-aling, ini adalah masalah waktu. Saya cemburu. Saya iri. Cemburu pada mereka yang mampu dan sanggup meluangkan waktu iktikaf di masjid mengharapkan datangnya malam kemuliaan itu. Iri pada mereka yang benar-benar zuhud di akhir Ramadhan, mengharapkan berkah Ramadhan, bekal untuk 11 bulan mendatang.
Saya tidak menggugat Allah, saya tidak ada sedikitpun kuasa untuk mengubah sebuah kalimat di lauhil mahfudz bahwasanya saya di hari ini dan di waktu ini masih harus berjibaku dengan urusan yang secara kasat mata adalah urusan duniawi. Menyesalinya pun adalah perbuatan sia-sia, sejauh akhirnya saya yakin ada rahasia di balik ini. Inikah iktikaf yang paling memungkinkan saya lakukan saat ini??
Tulisan ngelantur ini harus segera diakhiri. Sekedar menumpahkan sebuah perasaan lah yang akhirnya dapat saya simpulkan. Hmm..mumpung momennya bagus juga, insyaallah beberapa hari lagi, hari yang fitri akan datang. Saat fajar pagi yang dijanjikan pengampunan dosa oleh Gusti Allah untuk semua hamba-Nya. Ijinkanlah pribadi dan keluarga yang sering khilaf kata dan perbuatan ini, menyampaikan permohonan maaf lahir bathin. Semoga kita semua menjadi insan yang fitrah. Minal Aidin wal Faidzin. Taqobbalallahu minna waminkum Taqobbal ya Karim. Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H.
Friday, October 05, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment