Akhir-akhir kalo saya cermati, ternyata saya sudah terlibat terlalu banyak dengan Sangkuriang project..hm..
semoga tidak menjadi pekerjaan sia-sia..dan karbitan...
*sangkuriang project = project semalam suntuk yang esok pagi-pagi banget sudah harus kelar...dan perfect
Monday, February 19, 2007
Wednesday, February 14, 2007
Thursday, February 08, 2007
PSSI vs FIGC
Apa coba yang akan kita bandingkan? PSSI, yang notabene-nya adalah persatuan sepakbola sebuah negara dengan penduduk 5 besar dunia, terdiri dari 17 ribu lebih pulau dengan penduduk yang hampir 250 jt, sayang prestasi sepakbolanya gak ekuivalen dengan jumlah penduduknya. Terakhir prestasi yang diraih cuma medali emas di Sea Games, itupun tahun 1991..ironis memang.
nah trus kalo FIGC ? siapa sih yang gak tau..Piala Dunia 2006 di Jerman itu buktinya, meski sempat digoyang kasus calciopolli..semua orang juga tau kalo pada akhirnya Fabio Cannavaro dkk lah yang akhirnya mengangkat tropi di akhir kompetisi. Ah , beda kelas lah pokoknya (klo gak mau dibilang antara bumi dan langit).
Jadi apa yang mau kita pertandingkan? ok, mari kita bicara tentang kasus lain (bagi yang tadi sempat punya pikiran ini pertandingan sepak bola..mending dipinggirin dulu deh mas ;p).
Masih inget kasus tragedy derby Sisilia antara Palermo vs Catania? bagi yang lupa, bisa refreshment di sini. Buntut dari sebuah kekalahan Catania atas tim sekotanya, Palermo, harus dibayar mahal dengan meninggalnya Filipo Raciti(seorang polisi lokal), ratusan orang terluka dan rusaknya beberapa infrastruktur stadion. FIGC sebagai otoritas tertinggi sepakbola di Italia pun kebakaran jenggot, impact nya Lega Calcio dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan (siall..padahal Inter-ku sedang panas-panas nya menuju tangga scudetto). Kebijakan ini dilanjutkan dengan verifikasi kelayakan stadion yang menjadi homebase tiap kontestan, terutama dikaitkan dengan standar pengamanan.
Sekarang kita lihat dibelahan dunia lain, di Surabaya tanggal 4 September 2006, semifinal Copa Indonesia antara Persebaya vs Arema yang berakhir rusuh (basicly rivalitas kedua tim sudah lama, hampir seumur geliat sepakbola di Jawa Timur). Tidak kurang kerugian material mencapai lebih dari 5 Miliar rupiah dan kerugian im-material lainnya. Dalam hal ini pun, PSSI juga tidak kalah cepat responnya dengan FIGC. sanksi Persebaya (janc**) sudah disiapkan, setidaknya ada 3 sanksi signifikan: pencekalan terhadap oknum bonek, larangan bonek untuk tidak boleh mendampingi Persebaya selama 3 tahun dan Persebaya harus main di luar Jawa Timur. Wuih, hebat tenan..belahan bumi akan mencatat sejarah 'ketegasan' PSSI ini.
Atau kalo mau cari bandingan dengan kasusnya FIGC, inget kasus kematian Jak-mania waktu dikeroyok Bonekmania, kematian Aremania di Madiun waktu derby jatim juga (Arema vs Persekabpas) dan kasus-kasus kematian lainnya..
Sayang, ternyata PSSI kita tidaklah segalak FIGC. Sejarah mencatat, paling banter hanya partai usiran atau penundaan pertandingan untuk tim dengan status suporternya tersangka.
nah trus kalo FIGC ? siapa sih yang gak tau..Piala Dunia 2006 di Jerman itu buktinya, meski sempat digoyang kasus calciopolli..semua orang juga tau kalo pada akhirnya Fabio Cannavaro dkk lah yang akhirnya mengangkat tropi di akhir kompetisi. Ah , beda kelas lah pokoknya (klo gak mau dibilang antara bumi dan langit).
Jadi apa yang mau kita pertandingkan? ok, mari kita bicara tentang kasus lain (bagi yang tadi sempat punya pikiran ini pertandingan sepak bola..mending dipinggirin dulu deh mas ;p).
Masih inget kasus tragedy derby Sisilia antara Palermo vs Catania? bagi yang lupa, bisa refreshment di sini. Buntut dari sebuah kekalahan Catania atas tim sekotanya, Palermo, harus dibayar mahal dengan meninggalnya Filipo Raciti(seorang polisi lokal), ratusan orang terluka dan rusaknya beberapa infrastruktur stadion. FIGC sebagai otoritas tertinggi sepakbola di Italia pun kebakaran jenggot, impact nya Lega Calcio dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan (siall..padahal Inter-ku sedang panas-panas nya menuju tangga scudetto). Kebijakan ini dilanjutkan dengan verifikasi kelayakan stadion yang menjadi homebase tiap kontestan, terutama dikaitkan dengan standar pengamanan.
Sekarang kita lihat dibelahan dunia lain, di Surabaya tanggal 4 September 2006, semifinal Copa Indonesia antara Persebaya vs Arema yang berakhir rusuh (basicly rivalitas kedua tim sudah lama, hampir seumur geliat sepakbola di Jawa Timur). Tidak kurang kerugian material mencapai lebih dari 5 Miliar rupiah dan kerugian im-material lainnya. Dalam hal ini pun, PSSI juga tidak kalah cepat responnya dengan FIGC. sanksi Persebaya (janc**) sudah disiapkan, setidaknya ada 3 sanksi signifikan: pencekalan terhadap oknum bonek, larangan bonek untuk tidak boleh mendampingi Persebaya selama 3 tahun dan Persebaya harus main di luar Jawa Timur. Wuih, hebat tenan..belahan bumi akan mencatat sejarah 'ketegasan' PSSI ini.
Atau kalo mau cari bandingan dengan kasusnya FIGC, inget kasus kematian Jak-mania waktu dikeroyok Bonekmania, kematian Aremania di Madiun waktu derby jatim juga (Arema vs Persekabpas) dan kasus-kasus kematian lainnya..
Sayang, ternyata PSSI kita tidaklah segalak FIGC. Sejarah mencatat, paling banter hanya partai usiran atau penundaan pertandingan untuk tim dengan status suporternya tersangka.
Wednesday, February 07, 2007
"Oret-oretan" penjaga malam
Yeah..ah, judulnya pasti hiperbola dan ngaco. Nyatanya memang begitulah, paling tidak ya ini nih yg bisa dilakukan "kaum" malam seperti saya. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, saya akan banyak beredar di malamnya dunia maya (emang ada bedanya malam ama siang di dunia internet?), musibah banjir ini ternyata ada juga sedikit benefit buat saya..at least dengan status DBA shift malam ini, setidaknya beberapa hari kedepan : gak perlu bingung mandi begitu jam 8 pagi, gak keburu-buru mengelus-elus sepedah onthel ku, nyetrika baju lungset dan yang paling bikin seneng, hiatus sementara dari macet dan panasnya puteran balik depan Balai Kartini ke arah Jalan Gatot Subroto *senyum mengembang
saya kecil teringat ibunda tercinta tuk membiasakan diri menulis/menghitung sesuatu dengan oret-oretan (kertas buram) terlebih dulu. Belakangan ternyata konsep kertas buram ini, tidak lain adalah merangsang titik optimum dari penumpahan pergulatan pemikiran dengan perasaan. why? pernah saya sadari bahwa jari-jari tangan seolah-olah bisa menjadi 2 wajah yang berbeda ketika menulis apa yang dikatakan pikiran selanjutnya menghapus lagi ketika perasaan (etika dan estetika) yang bicara dan begitu pula sebaliknya ketika pikiran bersama ide, dogma, prinsip tidak mau kalah. trus apa hubungannya dengan judul di atas? terimakasih mungkin anda sudah mencoba merangkai-rangkai kaitannya..tapi sudahlah, seperti yang saya bilang, ini hanya penjaga malam yang sedang meracau dan mengurangi hiatus bloging (sekalis berdoa semoga menjadi obat trauma kecelakaan jatuh dari motor tepat yang hari ini sudah tepat seminggu ).
Yah, i get the point..hati dan otakku sudah setuju menandatangani MoU untuk tidur dan......dengan mantap tanganku menggelar kasur lipat setelah sekian lama diombang-ambingkan oleh 2 kubu yang berseteru itu..
ssstttt...sayup-sayup kayaknya terdengar hati berbisik "hai otak, kita gencatan senjata dulu yah..kacian tuan kita tuh, mukanya ucah lusuh banget", dan tanpa ragu otak pun menganggukkan kepala.
ZZZZzzzzzzzhhhhzzzzzzhhhh
@office, 3.10 am (senja hari buat penjaga malam)
saya kecil teringat ibunda tercinta tuk membiasakan diri menulis/menghitung sesuatu dengan oret-oretan (kertas buram) terlebih dulu. Belakangan ternyata konsep kertas buram ini, tidak lain adalah merangsang titik optimum dari penumpahan pergulatan pemikiran dengan perasaan. why? pernah saya sadari bahwa jari-jari tangan seolah-olah bisa menjadi 2 wajah yang berbeda ketika menulis apa yang dikatakan pikiran selanjutnya menghapus lagi ketika perasaan (etika dan estetika) yang bicara dan begitu pula sebaliknya ketika pikiran bersama ide, dogma, prinsip tidak mau kalah. trus apa hubungannya dengan judul di atas? terimakasih mungkin anda sudah mencoba merangkai-rangkai kaitannya..tapi sudahlah, seperti yang saya bilang, ini hanya penjaga malam yang sedang meracau dan mengurangi hiatus bloging (sekalis berdoa semoga menjadi obat trauma kecelakaan jatuh dari motor tepat yang hari ini sudah tepat seminggu ).
Yah, i get the point..hati dan otakku sudah setuju menandatangani MoU untuk tidur dan......dengan mantap tanganku menggelar kasur lipat setelah sekian lama diombang-ambingkan oleh 2 kubu yang berseteru itu..
ssstttt...sayup-sayup kayaknya terdengar hati berbisik "hai otak, kita gencatan senjata dulu yah..kacian tuan kita tuh, mukanya ucah lusuh banget", dan tanpa ragu otak pun menganggukkan kepala.
ZZZZzzzzzzzhhhhzzzzzzhhhh
@office, 3.10 am (senja hari buat penjaga malam)
[Opini] Tukul, sang Fenomena Alam
“Kembali ke Lap … top!!!”
Kalimat itulah yang akhirnya jadi khas dan menjadi “trade mark” untuk acara “Empat Mata” yang disiarkan oleh Trans7 .Cuman kesan yang muncul di masa awal penanyangannya adalah kesan … nih host acara koq "wagu" banget … tradisinya, ketika obrolan dengan bintang tamu mulai meluas dan tidak fokus, pembawa acara/host akan segera memotong pembicaraan dengan ucapan ; “kembali ke pertanyaan”, “kembali ke topik” … eh Tukul Arwana dengan enaknya ngomong …
“Kembali ke Lap … top!!!”
Kepindahan M. Farhan dari TRANSTV ke ANTV merupakan sebuah langkah yang cukup menarik perhatian khalayak pertelevisian di Indonesia. ANTV yang saat itu benar-benar tidak bergairah, begitu FARHAN masuk menjadi salah satu konseptor format acara ANTV, tidak lama kemudian ANTV mulai memperlihatkan perubahan-perubahan signifikan. Setelah sukses membawakan LEPAS MALAM di TRANSTV, Farhan berhasil membuat sebuah talk show di ANTV … dengan identitas dia yang lebih terekspose. Tidak tanggung-tanggung acara tersebut dilabeli “OM FARHAN”. Tidak lama “Om Farhan” menjadi salah satu unggulan ANTV. Hampir tiap hari kita disuguhi obrolan-obrolan yang ringan sekaligus mendalam. Kita tidak ragu, kalau M Farhan memang seorang konseptor acara dan sekaligus host yang kreatif.
Sementara itu, di stasiun TV lain (saat itu masih TV7), setiap Minggu malam, hadir sebuah acara talkshow serupa dan yang mengejutkan, acara tersebut dibawakan oleh Tukul Arwana, seorang komedian (di awal penampilannya..klo gak salah Tukul sempat duet dengan Dian Sastro, namum mungkin karena dianggap njomplang jadi produser lebih memilih menjual "ke-ndeso-an" Tukul dan belakangan disadari itulah keputusan emas). Bisa dibayangkan, “kekhawatiran” penonton ketika melihat seorang komedian (yang naif, ndeso, katro’, dst) membawa acara yang teramat sangat “berat” dan “dalam” (paling tidak menurut saya). Ternyata “kekhawatiran” tersebut justru menjadi keasyikan tersendiri bagi penonton EMPAT MATA. Yang dirasakan adalah adanya kejutan dan keterkejutan. Bisa dibayangkan betapa Tukul Arwana yang sebelumnya tercitrakan ndeso tiba-tiba harus membawakan sebuah acara di mana dia harus berperan utama dan harus mampu membawa ritme acara tersebut dari awal sampai akhir.
Ketika (akhirnya) acara tersebut diformat harian, bisa menjadi alternatif acara yang cukup menggoda untuk ditonton. Seorang M Farhan, dengan “Om Farhan”-nya, akhirnya harus rela “didahului” 30 menit, oleh “Empat Mata” yang “dikemudikan” oleh Tukul.
Berprospeknya “Empat Mata” dibanding Om Farhan, bisa kita cermati dengan memilihnya Pepi untuk bergabung dengan EMPAT MATA. Kita tidak tahu, apakah karena diintimidasi oleh Tukul, kemudian Pepi lebih memilih bergabung dengan EMPAT MATA.
Kehadiran si Pepi, yang juga pernah hadir di “Om Farhan”, merupakan penyedap “Empat Mata”. Yah..semacam pembajakan gitu deh. Hal yang sama juga diberikan kepada Vega “Ngatinem”, waitress di Barnya “Empat Mata”. Dalam hal ini, Tukul mempunyai kemampuan untuk berbagi dengan pendamping-pendampingnya. Mungkin baru ini, ketika seorang host tidak lagi dominan dalam mengantar sebuah acara.
Belum lagi, ketika kewibawaan host menjadi sebuah hal yang tidak lagi perlu dijaga. Betapa tidak, seorang bintang tamu “Empat Mata” dengan sah-sah saja melecehkan host acara. “Empat Mata” edisi Model, yang menghadirkan Donna Harun, Robby Tumewu, Arzeti Bilbina dan Olga (ExtravaganzABG), memperlihatkan bagaimana seorang HOST dicuekin oleh bintang tamunya. Inilah magnet lain “Empat Mata”.
Akhirnya, hanya bisa menyimpulkan..Tukul Arwana dengan segala ke-ndeso-annya adalah Fenomena Alam (kayak fenomena banjir di Jakarta sekarang ini)
@office, DBA shift malam
Kalimat itulah yang akhirnya jadi khas dan menjadi “trade mark” untuk acara “Empat Mata” yang disiarkan oleh Trans7 .Cuman kesan yang muncul di masa awal penanyangannya adalah kesan … nih host acara koq "wagu" banget … tradisinya, ketika obrolan dengan bintang tamu mulai meluas dan tidak fokus, pembawa acara/host akan segera memotong pembicaraan dengan ucapan ; “kembali ke pertanyaan”, “kembali ke topik” … eh Tukul Arwana dengan enaknya ngomong …
“Kembali ke Lap … top!!!”
Kepindahan M. Farhan dari TRANSTV ke ANTV merupakan sebuah langkah yang cukup menarik perhatian khalayak pertelevisian di Indonesia. ANTV yang saat itu benar-benar tidak bergairah, begitu FARHAN masuk menjadi salah satu konseptor format acara ANTV, tidak lama kemudian ANTV mulai memperlihatkan perubahan-perubahan signifikan. Setelah sukses membawakan LEPAS MALAM di TRANSTV, Farhan berhasil membuat sebuah talk show di ANTV … dengan identitas dia yang lebih terekspose. Tidak tanggung-tanggung acara tersebut dilabeli “OM FARHAN”. Tidak lama “Om Farhan” menjadi salah satu unggulan ANTV. Hampir tiap hari kita disuguhi obrolan-obrolan yang ringan sekaligus mendalam. Kita tidak ragu, kalau M Farhan memang seorang konseptor acara dan sekaligus host yang kreatif.
Sementara itu, di stasiun TV lain (saat itu masih TV7), setiap Minggu malam, hadir sebuah acara talkshow serupa dan yang mengejutkan, acara tersebut dibawakan oleh Tukul Arwana, seorang komedian (di awal penampilannya..klo gak salah Tukul sempat duet dengan Dian Sastro, namum mungkin karena dianggap njomplang jadi produser lebih memilih menjual "ke-ndeso-an" Tukul dan belakangan disadari itulah keputusan emas). Bisa dibayangkan, “kekhawatiran” penonton ketika melihat seorang komedian (yang naif, ndeso, katro’, dst) membawa acara yang teramat sangat “berat” dan “dalam” (paling tidak menurut saya). Ternyata “kekhawatiran” tersebut justru menjadi keasyikan tersendiri bagi penonton EMPAT MATA. Yang dirasakan adalah adanya kejutan dan keterkejutan. Bisa dibayangkan betapa Tukul Arwana yang sebelumnya tercitrakan ndeso tiba-tiba harus membawakan sebuah acara di mana dia harus berperan utama dan harus mampu membawa ritme acara tersebut dari awal sampai akhir.Ketika (akhirnya) acara tersebut diformat harian, bisa menjadi alternatif acara yang cukup menggoda untuk ditonton. Seorang M Farhan, dengan “Om Farhan”-nya, akhirnya harus rela “didahului” 30 menit, oleh “Empat Mata” yang “dikemudikan” oleh Tukul.
Berprospeknya “Empat Mata” dibanding Om Farhan, bisa kita cermati dengan memilihnya Pepi untuk bergabung dengan EMPAT MATA. Kita tidak tahu, apakah karena diintimidasi oleh Tukul, kemudian Pepi lebih memilih bergabung dengan EMPAT MATA.
Kehadiran si Pepi, yang juga pernah hadir di “Om Farhan”, merupakan penyedap “Empat Mata”. Yah..semacam pembajakan gitu deh. Hal yang sama juga diberikan kepada Vega “Ngatinem”, waitress di Barnya “Empat Mata”. Dalam hal ini, Tukul mempunyai kemampuan untuk berbagi dengan pendamping-pendampingnya. Mungkin baru ini, ketika seorang host tidak lagi dominan dalam mengantar sebuah acara.
Belum lagi, ketika kewibawaan host menjadi sebuah hal yang tidak lagi perlu dijaga. Betapa tidak, seorang bintang tamu “Empat Mata” dengan sah-sah saja melecehkan host acara. “Empat Mata” edisi Model, yang menghadirkan Donna Harun, Robby Tumewu, Arzeti Bilbina dan Olga (ExtravaganzABG), memperlihatkan bagaimana seorang HOST dicuekin oleh bintang tamunya. Inilah magnet lain “Empat Mata”.
Akhirnya, hanya bisa menyimpulkan..Tukul Arwana dengan segala ke-ndeso-annya adalah Fenomena Alam (kayak fenomena banjir di Jakarta sekarang ini)
@office, DBA shift malam
Subscribe to:
Posts (Atom)