Tuesday, July 31, 2007

Iraq? Boleh lah..


Hingar bingar Piala Asia 2007 sudah usai. Event yang seharusnya digelar 2008 ini, sukses di gelar di 4 negara terpisah dengan memakan durasi 22 hari. Konon katanya, event ini disebut sebagai event dengan covering area terbesar, durasi kompetisi lumayan lama, total suporter terbanyak, total pemirsa layar kaca yang mencapai lebih dari semilyard dan etc etc rekor fantastis lainnya.

Kejutan? jagad sepakbola Asia menyaksikan kiprah negara Asia Tenggara yang cuman dipandang sebelah mata, ternyata meski postur burung orangnya kecil tapi dengan kemampuan luar biasa (note: kecuali Malaysia :D). Vietnam malah mampu lolos babak knock out dalam kompetisi yang baru diikuti sekali ini. Hebat.
Tak kalah pula pasukan Garuda Merah Putih, hmm..sejatinya tidak berlebihan jika penampilan Timnas Merah Putih kali ini adalah terbaik sepanjang 10 tahun terakhir. Dan sepertinya sudah habis pujian bagi punggawa merah putih meski kalah tetap berdiri dengan tegak dengan lencana garuda lambang negara di dada, dengan standing ovation 89 ribu supporter Timnas tentunya. Spirit ini yang bikin saya speechless untuk mendeskripsikan kehebatan pasukan merah putih di blog ini tempo hari, padahal saya salah satu dari sekian ribu pasang mata itu. Viva Indonesia!!

Tapi akhirnya saya tergoda juga untuk posting ini yang saya anggap sesuatu hal yang baru yang saya anggap chemistry nya hampir-hampir menyamai spirit pengalaman nonton kiprah Timnas langsung di stadion dan layak untuk saya share. Hanya satu nama : IRAQ. Yup, edisi Piala Asia tahun ini diakhiri dengan sebuah kejutan yang hampir menjungkalkan hegemoni sepakbola Asia selama ini.
Siapa yang menyangka sih? Bursa taruhan bisa dijamin babak belur. Jagoan bandar taruhan : Arab Saudi, Korea dan Australia hancur, dan hebatnya semuanya pernah luluh lantak di tangan pasukan Mesopotamia ini. Bicara tentang pertandingan final, sudahlah statistic ball possesion 60 - 40 untuk Iraq sudah cukup tahu siapa yang lebih punya kualitas. Salto akrobatik Bassim Abbas, gaya libero Jassim Gholam atau playmaker Younis Mahmoud yang elegan.

Tapi sayangnya, kemenangan Iraq ternyata bukan pertarungan rebutan bola dengan tim Padang Pasir Arab Saudi. Iraq terbukti mampu merebut hati supporter Indonesia. Entah spirit dari mana, yang pasti ribuan supporter Indonesia berubah layaknya supporter militan Iraq. Entah siapa pula yang mengkoordinir, fans serasa tidak asing untuk berteriak 'Iraq..Iraq'. Kalo boleh ditelusuri ada 2 alasan yang paling mungkin : fans Indonesia simpatik pada perjuangan tim Iraq atau kemungkinan kedua bisa jadi dendam sama tim Arab yang ngalahin Indonesia di babak kualifikasi dengan sedikit tidak 'thoyib' (baca : bagus/halal). Damn Al Badwawi.

Yup, bisa jadi sih, Iraq yang dengan modal pas-pasan berangkat dari negeri 1001 malam yang berkecamuk mengundang simpati publik lokal. Apalagi dengan kondisi tim yang setengah diitimidasi oleh AFC, terlunta-lunta menunggu jatah hotel selama 6 jam di Malaysia sebelum babak semifinal. Cerita lumayan mengagetkan juga kalau faktanya ternyata Kiper Iraq, Noor Sabri untuk ikut ajang Piala Asia tidak mampu sekedar membeli travel bag. Belum lagi masih tentang issue pertentangan Sunni dan Syiah di dalam internal tim.
Atau kemungkinan kedua juga mungkin koq. Alasannya bukan dari saya. Pria botak yang duduk di depan saya waktu itu paling semangat teriak-teriak 'Iraq..Iraq' dan setengah menjelekkan Arab "salah sendiri sih lo pake ngalahin Indonesia..dibantai ama Iraq..mampus dah lo.. *waduh bahaya juga nih orang
Atau ada lagi yang lebih konyol bilang "syukurin dah..kuwalat lo..pake ngga bolehin Garuda terbang ke Arab..biarin dah gua naik onta ke sono" *parah..parah..santai dikit napa pak !!

Well, entah kenapa saya juga ikutan puas. Bisa jadi karena 2 alasan di atas sih. Tapi saya lebih suka menyebut sebagai kemenangan bagi rakyat Iraq. Kemenangan dari pertikaian internal dalam negeri meski hanya sehari. Makna yang luas ketika persis di depan saya dibentang bendera Iraq dengan tulisan yang simple tapi full mining "Be United Iraq". Publik senayan tidak salah standing ovation untuk Iraq, bukan untuk 11 orang di lapangan itu, juga bukan untuk piala yang mereka genggam sekarang. Tapi sepertinya yang terlihat adalah jutaan rakyat Iraq yang nun jauh di sana, entah sekarang dalam kondisi tidak menentu. *praying for Iraqian
Tidaklah bermasalah juga kalo Senayan yang selama ini angker, untuk malam itu saja sebutlah "Ini kandang Iraq!!"..hehehe boleh lahh

--Lets kickout imperialism from football--

Friday, July 20, 2007

Gendjer-gendjer

Langsung teringat 'forbidden' song jaman pemberontakan PKI tahun 1965? betul sekali. Belakangan, di tengah agak intens nya saya buka-buka file lama terkait peristiwa yang katanya paling kelam yang pernah dicatatkan bangsa ini, terselip nama lagu ini yang konon adalah lagu sensistif untuk dinyayikan. Memang bener? mungkin juga. Tapi sepertinya bukan pada lirik lagunya, sangat beda sekali dengan comunist anthem "L'internationale" yang memang isinya persuasif dan penuh propaganda. Sejarah juga tidak mencatat bahwa lagu ini disahkan sebagai mars/hymne Partai Komunis Indonesia (tokoh utama pergolakan bangsa pertengahan tahun 1960-an). Lantas lagu ini salah apa?? *sudah dicari di google dengan keyword "salahnya lagu Gendjer-gendjer" tetep ndak nemu juga* hahaha

Belakangan ternyata lagu ini sempat booming pada saat revolusi gagal itu meletus. Mungkin sama seperti lagu 'SMS' nya Trio Macan yang booming beberapa bulan silam. Trus apesnya (ga bisa dibilang apes juga sih), lagu ini konon katanya dinyanyikan Gerwani saat malam 1 Oktober 1965 tepatnya pada saat tragedi melukis di wajah petinggi TNI AD dengan menggunakan silet. Mungkin masih berupa jargon, tapi sudah menjadi mindset umum bahwa untuk selanjutnya lagu ini tidak boleh dinyanyikan lagi di jaman itu, meski juga belum ada yang bisa memastikan seandainya dulu yang dinyanyikan adalah lagunya The Beatles bakalan dilarang juga. *huehuehue*

Tapi inilah bukti bahwa lagu ini tidak asing dan sangat dekat dengan rakyat. Menilik dari artinya, 'Gendjer' dalam bahasa Jawa artinya kurang lebih adalah semacam selada air yang biasanya hidup di rawa-rawa dan sangat jarang diolah menjadi sayur kecuali kalo memang sudah terpaksa. Ini retorika politik, ditengah program Bung Karno melancarkan politik Mercusuar, keadaan rakyat jaman itu memang seperti kepingan sisi mata uang yang lain. Jauh dari kata sejahtera. Dan tidaklah bersalah juga kalo ternyata daun gendjer menyambung hidup mengenyangkan perut mereka..
Berbanggalah pencipta lagu ini, meski dengan lirik yang sama sekali tidak bermakna..tapi sudah cukup dijadikan alasan untuk memberangus nyawa seseorang..
Genjer-genjer

Genjer-genjer(Genjer-genjer)
Di pematang, berserakan (nong kedok-an pating keleler)
Ibunya anak-anak, datang-datang (Emak-e tole,teko-teko)
Mencabuti genjer (mBubuti genjer)

Dapat sebakul (oleh sak tenong)
Lalu ngeloyor pergi (mungkor sedot)
Dapat yang kecil-kecil (seng tole-tole)
Genjer-genjer (genjer-genjer)
Sekarang sudah dibawa pulang (saiki wis digowo muleh)

Genjer-genjer (Genjer-genjer)
Pagi-pagi dijual di pasar (isuk-isuk didol ning pasar)
Dibariskan, diikat dan semua digelar (dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar)

Ibunya Jebreng (emak-e Jebreng)
pada beli membawa belasan ikat (podo tuku nggowo welasan)
Genjer-genjer sekarang siap diolah (genjer-genjer saiki wis arep diolah)
Tidak ada yang salah dengan lagu ini khann???
*still wondering