Cerita ini ditrigger oleh puluhan sms yg masuk ke SE P910 saya dengan nada yg serupa, pada intinya berhubungan dengan bulan Ramadhan 1428 H, sender sms memohon maaf atas kesalahan yg selama ini mungkin pernah mereka lakukan (ke aku? maybe). Tapi sepertinya juga bukan special ditujukan ke aku juga alias send all, secara memang tidak ada panggilan khusus ex: "dana","perdana", ato "denmas nyambix" seperti khalayak umum lainnya. ahahahha.
Sejauh ini bukan masalah, meski ternyata jalur komunikasi saya yg lainnya, humm..katakanlah via YM begitu juga. Ato lewat email bernasib serupa, dengan sedikit
'kebodohan' 'ketidakngertian' segelintir orang yg dengan serta merta mengirimkan email ke semua karyawan Kantor Pusat (wow..sekitar 1500 an orang), udah gitu pake attachment yg gedenya rata-rata 1 MB. Parahnya lagi juga sebagian dengan enteng "reply to all" dengan kata2 standart but simple : "iya..sama-sama", "amin" etc..etc. Kasihan yg lain juga yg kerjaannya bergantung pada traffic email jadi ikutan kena imbas nya.
Sampai di sini pun juga belum masalah bagi saya, sejauh masih saya tanggapi dengan satu kata: cuek. Baru saya merasa tergugah bukan karena sudah sedmekian parahnya kelakuan mereka. Sekali lagi bukan. Tapi ada momen dimana saya merasa bahwa tindakan mereka juga tidak bisa disalahkan. Diawali oleh sebuah posting di mailing list FosilX oleh sesorang yg intinya menanyakan fenomena ini beserta dasar dalilnya. Kata terakhir yg perlu digarisbawahi : dasar dalilnya. Poin inilah yg pada akhirnya menggugah asumsi nakal dan moderat saya, bahwa apakah akan ada lagi penghakiman Bid'ah lagi? Secara memang juga tidak ada yg bisa memberi jawaban yg klop tentang dasar dalil. Menghakimi tindakan seseorang itu memang boleh (dan ini ternyata juga termasuk hak azasi), saya setuju 100 %. Namun yang justru tidak bisa saya pahami adalah ketika ada perbuatan kaum ini atau katakanlah perbuatan yg mirip ritual/tradisi, lantas dilakukan secara massal, tapi saat ditanyakan apakah tradisi itu pernah dicontohkan Nabi dan punya dalil kuat? tidak ada satu bukti kuat pun yg bisa ditunjukkan. Maka dengan serta merta, sebagian golongan yg masih umat ini juga, menghakimi saudara nya dengan bid'ah. Yup, bid'ah yg sepanjang umur saya, yg saya tahu hanya untuk diperdebatkan dan gontok-gontokan.
Perasaan terakhirlah yg akhirnya menyadarkan saya untuk memposisikan diri sebagai mereka yg saya tahu pasti dengan maksud baik mengirim sms atau email bernada permohonan maaf. Saya bisa merasakan persis bahwa sama sekali tidak ada maksud buruk dari sebuah pernyataan permohonan maaf. Bukankah itu lebih baik daripada kaum sebelahnya yg hanya bisa mem-bid'ah-kan saudara seimannya. Bukankah minta maaf itu adalah perbuatan yg diajarkan dan dianjurkan oleh kanjeng Nabi?
Akhirnya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, ijinkanlah memasuki bulan Ramadhan nan suci ini, diri ini yang kadang salah berucap kata dan salah membawakan diri dengan sengaja maupun tidak sengaja, memohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya untuk kami sekeluarga. Sungguh maaf dari anda, insyaallah akan sangat meringankan langkah kami menjalani ibadah puasa kami. Selamat menunaikan ibadaha puasa, sampai hari kemenangan esok. Minal Aidin wal Faidzin.