Sebuah tulisan yang khusus ditujukan untuk mengenang beliau, almarhum bapak Kastamun, hanya seorang biasa yang tepat hari ini 7 hari beliau dipanggil Allah, Sang Khalik..
Beberapa kali saya memasang status "gloomy" di gtalk maupun YM dengan tanpa maksud yang sebenarnya, namun agaknya kesampaian juga suasana mendung suram itu..setidaknya bagi saya di seminggu ini. Tepat di hari ini, seminggu yang lalu, adalah seorang yang biasa tak lebih dari manusia kebanyakan lainnya, namun sangat kaya arti bagi saya, akhirnya mengalami garis sunnatullah yang mutlak bahwa Allah yang menciptakan dan pada-Nya semua akan kembali.
Beliau yang masih di usia 67 tahun, masih sangat nampak bugar dan masih sanggup bercerita tentang idealisme. Setidaknya 5 hari sebelum beliau meninggal, beliau menelpon saya untuk berbagi cerita tentang kecerewetan eyang putri manakala beliau mulai merokok lagi, aktivitas yang divonis haram semenjak beliau positif hypertensi. Sambil berkelakar tentang pulsa handphone nya (kebetulan pake kompetitornya Telkomsel :p ) yang katanya cepat habis dan minta dibeliin pulsa di akhir percakapan. Ternyata itu adalah percakapan terakhir dengan beliau. Karena 2 hari berikutnya beliau divonis stroke dan dalam kondisi koma sampai beliau mangkat jumat dini hari.
Beliau adalah kakek saya secara biologis, ayah dari ibu saya, namun rasanya saya menganggap lebih dari itu. Menjadi kakek dengan sejuta kesejukan manakala kadang saya 'melarikan diri' dari bapak-ibu. Atau seorang sahabat untuk bercerita masa lalu, lawan main catur, memancing ikan dan banyak aktivitas yang bersama telah kami lakukan. Beliau juga pernah memerankan sebagai seorang 'ayah' bagi saya, di masa awal belasan tahun saya ketika belajar mandiri berpisah dari orang tua.
Tubuhnya ringkih namun tidak dengan ide dan idealisme nya. Seorang biasa yang ternyata tersimpan pemikiran luar biasa dalam menyikapi perubahan. Idealisme yang kata beliau dipelajari saat di awal tahun 60-an tergabung dalam Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), sebuah organisasi underbow PKI, meski begitu tidak sama sekali memaksakan pendapat ke anak cucu nya. Katanya "aku cuman orang yg lebih dulu dilahirkan dan lebih dahulu mengenyam pengalaman, sehingga berkewajiban menularkan pengalaman jaman dahulu sebelum kamu-kamu lahir". Mungkin jumlah usia yang menyebabkan beliau tidak pernah memandang sesuatu secara emosional dan membabi buta. Kepada beliaulah, sebuah telaga untuk mengadu kepenatan pemikiran. Sampai akhirnya di hari beliau harus menghadap Sang Maha Suci...dan telaga kesejukan itu telah surut, seperti yang sudah digariskan di Lauhil Mahfudz.
Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama`ah hamba-hamba-Ku,
masuklah ke dalam syurga-Ku.
(Al:Fajr:89:27-30)