Sedikit saya akan menggelitik sampeyan dengan sesuatu yang katanya orang adalah idealisme, relevansi dan sedikit urusan perut. Bicara tentang sebuah cita-cita seperti halnya bicara beberapa babak ke belakang, babak ketika saya dan sampeyan masih kecil.
"Cita-cita mu opo, ngger?"
"Dokter"
"Pilot"
"Guru"
"Kentara (maksudnya Tentara) " *maklum lidah anak kecil*
"Insinyur" *jaman modern, gelar ini sudah ga ada lagi*
Lantas, adakah yang salah dengan sebuah cita-cita? Tidak Kisanak. Bahkan serasa sebuah kewajiban memiliki cita-cita, at least pernah sedikit 'dipaksa' bahwa semasa kita kecil harus punya cita-cita.
Relevansi? Ya, betul sekali sampeyan Kisanak. Ketika saya dan sampeyan sudah berada di titik ini, di umur yang sekian tahun yang bukan lagi masa kekanakan, masih adakah hubungan yang sinergi dengan apa yang kita pernah cita-cita kan? Gampangnya, masih mungkinkah kita menyimpan cita-cita itu dan terobsesi untuk mewujudkannya? Maksudnya di usia kita yang sudah 'tua' ini tentunya, Kisanak.
Syahdan, dulu saya bercita-cita jadi insinyur pertanian, cita-cita yang luhur menurut saya kala itu. Wajar, lha wong saya dilahirkan dan dibesarkan dari culture pedesaan. Eh ndilalah (kebetulan) sekarang ini nyasar jadi buruh pabrik, yang lazim sampeyan semua ketahui ini sepenuhnya adalah urusan perut, ya tho? (barangkali) Sedikit dibenturkan dengan idealisme, apa yang dicita-citakan dan sedikit membandingkan dengan realitas sekarang.
Tapi saya tidak ambil pusing dan tidak pengen bikin sampeyan pusing koq. Hanya menurut sampeyan gimana, apakah cita-cita masa kecil adalah hal yang tidak perlu? atau begini saja yang lebih moderat, cita-cita itu adalah sesuatu hal yang fleksibel, bisa direvisi sewaktu-waktu mengikuti babak-babak
Saya berkeyakinan anda punya cita-cita yang jauh lebih seru dari punya saya...
1 comments:
Lah wong sejak smp saya udah kepengen kerja di depan komputer kog pak. Suer deh,
Post a Comment